Wellbeing Articles

Hidup Sejahtera dan Lawan Stres dengan Teknik Journaling

Menulis diary atau catatan harian mungkin adalah hobi di masa kecil. Dulu, kita sering kali menuliskan perasaan kita di sebuah buku yang kemudian digembok dan diletakkan di tempat yang tidak bisa ditemukan siapa pun. Buku harian menjadi tempat yang paling aman untuk mengungkapkan segala perasaan rahasia yang kita miliki. Seiring usia beranjak dewasa, kebiasaan ini mungkin mulai terlupakan karena kesibukan atau dirasa terlalu kekanak-kanakan. Padahal, pada usia dewasa kini, kegiatan mencatat bagaimana hari kita berlangsung dan perasaan apa saja yang muncul sepanjang hari bisa menjadi evaluasi diri yang membawa pada kesehatan mental, lho. Setiap kali merasa tertekan, depresi, atau perasaan tidak menyenangkan lainnya, cobalah untuk menuliskan apa yang kita rasakan di jurnal pribadi kita. Membuat catatan harian dapat membantu mengendalikan emosi. Dikutip dari University of Rochester Medical Center, membuat jurnal dapat meningkatkan suasana hati karena:  Membantu memprioritaskan masalah, ketakutan, dan kekhawatiran. Melacak gejala apa pun setiap hari sehingga kita dapat mengenali pemicu dan mempelajari cara untuk mengontrolnya dengan lebih baik. Memberi kesempatan untuk afirmasi diri dan mengidentifikasi pikiran serta perilaku negatif.   Manfaat dari menulis jurnal harian juga didukung oleh penelitian yang diunggah di National Center for Biotechnology Information Amerika Serikat. Dalam penelitian tersebut, dilakukan tinjauan terhadap 70 orang dewasa dengan berbagai macam kondisi medis dan memiliki gejala kecemasan. Mereka ditugaskan untuk menulis jurnal harian. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa menulis jurnal harian menurunkan tekanan mental serta meningkatkan kesejahteraan. Bagaimanapun, perlu diingat bahwa menulis jurnal hanya salah satu cara untuk membuat hidup kita lebih sejahtera. Pastikan bahwa setiap kali kita menulis jurnal, kita juga menjaga kondisi tubuh dengan makan makanan bergizi, istirahat cukup dengan pola tidur teratur, dan berolahraga rutin. Pastikan juga bahwa jurnal menjadi pedoman untuk menjalani gaya hidup sehat. Berikut adalah berapa tip untuk mulai menulis catatan harian: Tulis catatan setiap hari. Konsistensi merupakan kunci keberhasilan. Bila menulis catatan setiap hari, bukan tidak mungkin kita akan mengetahui prioritas masalah sehingga dapat menyelesaikannya. Dengan begitu, kualitas hidup dan kesehatan mental akan lebih terjaga. Buatlah kegiatan menulis semudah dan senyaman mungkin sesuai gaya kita masing-masing. Bisa saja menulis dengan cara "klasik", yaitu membawa buku jurnal dan pulpen ke mana-mana agar bisa menulis setiap saat merasakan gejolak dalam hati; bisa juga dengan membuat catatan di ponsel. Kini bahkan sudah ada berbagai aplikasi yang bisa kita pilih sesuai selera dan kebutuhan untuk menulis catatan harian. Tulis apa pun yang kita rasa harus ditulis. Menulis catatan harian tidak memerlukan struktur formal seperti membuat tulisan akademik. Catatan ini bersifat pribadi sehingga bagaimanapun cara kita menulis, seberapa banyak coretan, ataupun tata letak yang berantakan tidak akan berpengaruh apa pun. Gunakan jurnal sesuai kehendak kita. Ingat, jurnal adalah tempat aman yang kita miliki untuk menuangkan dan menyimpan perasaan, kecemasan, masalah, hingga rasa bahagia yang kita alami. Jika ingin berbagi kepada orang lain, tunjukkan saja sebagian kecil yang memang ingin kita bagi. Kita tidak memiliki kewajiban untuk menunjukkan semuanya.   Mudah bukan menulis catatan harian? Lakukanlah seperti saat kita masih kecil: menulis saat marah kepada teman yang jail, atau kecewa terhadap orangtua karena tidak dibelikan mainan yang kita inginkan. Cara itu tetap dapat diterapkan saat ini ketika kita dewasa, tentu dengan masalah yang lebih kompleks.  Merasa lelah dengan persoalan keluarga, finansial, atau lainnya? Coba tuliskan dalam jurnal agar prioritas masalah yang harus diselesaikan dapat semakin mudah dipahami dan jelas. Suatu hari nanti, bila kita melihat kembali catatan-catatan lama, kita akan merasa bangga dengan apa yang telah kita capai: Bahwa kita dapat bertahan melewati berbagai macam masalah dan emosi yang pernah dirasa dan dialami. Semua itu adalah sebuah pencapaian. Yuk, tulis jurnal mulai dari sekarang untuk mendapat berbagai macam manfaat bagi kesehatan mental kita. Bersama kita perangi pikiran negatif sambil belajar menulis jurnal untuk melepas stres dalam webinar Kognisi persembahan Employee Assistance Program KG bertajuk “Nulis Jurnal: Trik Jitu Lawan Stres” bersama Chintia, Designer Elex Media Komputindo dan anggota KARGO, juga Arienda Anggraini M.Psi., Associate Psychologist Kompas Gramedia, pada: Rabu, 10 Maret 2021 | pukul 15.30 s.d. 17.30 WIB | via Zoom Meeting    *Spesial! Akan ada sesi menulis jurnal bersama, maka jangan lupa untuk menyiapkan kertas/buku, alat tulis, dan alat warna. Yuk, daftar segera sekarang di Kognisi, atau melalui http://bit.ly/EAPnulisjurnal. Jangan sampai ketinggalan dan sampai jumpa, Sobat KG!   Penulis: Jihan Aulia Zahra Pengulas: Brigitta Valencia Bellion Referensi: rochester.edu, NCBI

Created By FEBE KINAWA PANGGUA

Published at:

Employee Assistance Program: Kompas Gramedia Peduli Padamu

Tak terasa setahun sudah wabah Covid-19 mengakibatkan hampir seluruh aspek kehidupan terhambat. Dalam kondisi yang serba tidak pasti ini, tak jarang muncul perasaan bingung, cemas, atau rasa takut yang akhirnya dapat memengaruhi kualitas kesejahteraan (wellbeing) masyarakat. Ketidakpastian juga dialami para pencari nafkah atau tulang punggung keluarga, baik mereka yang terpaksa bekerja dari rumah (WFH) maupun yang tetap bekerja di luar rumah.  Melansir Kompas.com, riset Center of Human Capital Development (CHCD) PPM Manajemen, lembaga pendidikan manajemen, terhadap 2.500 pekerja Indonesia di tahun lalu menunjukkan bahwa 80 persen responden mengalami gejala stres karena khawatir akan kesehatannya selama masa pandemi Covid-19. Sementara survei terhadap 1.168 karyawan Kompas Gramedia di awal Februari 2021 ini menunjukkan bahwa 36,6 persen di antaranya menyatakan mereka mudah mengalami stres dan tertekan selama pandemi.  Namun, di tengah kekalutan ini tentu akan selalu ada harapan dan titik terang yang menanti untuk digapai, asalkan, kita mau bersama-sama berjuang untuk meraihnya. Untuk itu, penting bagi kita untuk mulai memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan diri masing-masing demi memperoleh kualitas hidup yang lebih baik meski dalam situasi yang menyulitkan.  Memelihara kesejahteraan fisik maupun mental di tengah pandemi sembari berjuang memenuhi kebutuhan hidup bukanlah hal mudah, bahkan dalam keadaan normal sekalipun. Di sinilah peran perusahaan untuk mengayomi kesejahteraan karyawan akan semakin dibutuhkan. Oleh karena itu, Kompas Gramedia mengerti dan berupaya untuk terus hadir bagi Anda, para karyawannya, terutama pada masa-masa sulit seperti saat ini. Kesejahteraan karyawan terus menjadi fokus utama bagi Kompas Gramedia. Guna memelihara kesejahteraan karyawan, Kompas Gramedia memberikan solusi berupa Employee Assistance Program (EAP), sebuah program pendampingan bagi karyawan yang terdiri atas berbagai inisiatif untuk menjaga dan meningkatkan aspek kesejahteraan (wellbeing) baik dari sisi fisik, mental, maupun finansial. Dengan mengintegrasikan berbagai sarana peningkatan well-being yang ada, Kompas Gramedia menyediakan fasilitas konseling terkait tiga aspek kesejahteraan tersebut dengan para ahli di bidangnya.  Menyangkut kesejahteraan fisik, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter dan praktisi kesehatan lainnya. Dalam aspek kesehatan mental, para psikolog profesional akan selalu hadir membantu Anda. Kemudian, saat Anda memiliki masalah finansial, Anda dapat selalu berkonsultasi dengan praktisi keuangan berpengalaman. Demi kemudahan dan kenyamanan seluruh karyawan, fasilitas konseling ini dapat diakses secara daring melalui laman EAP di MyKG dengan memilih fitur Wellbeing Assistance. Tak hanya fasilitas konseling yang disediakan, tetapi Kompas Gramedia melalui Employee Assistance Program juga akan menghadirkan berbagai narasumber ahli dalam kegiatan webinar, workshop, hingga kegiatan komunitas menarik lainnya. Seluruh aktivitas tersebut dihadirkan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan Anda sebagai bagian dari keluarga besar Kompas Gramedia. Untuk mengetahui jadwal terbaru dari kegiatan tersebut, Anda dapat mengaksesnya melalui fitur Wellbeing Event pada laman EAP di MyKG. Selanjutnya, Anda juga bisa mengakses berbagai artikel terkait kesejahteraan fisik, mental, dan finansial pada fitur Wellbeing Article di laman yang sama sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Semua fasilitas yang disediakan dalam Employee Assistance Program ini dapat diakses kapanpun dan di manapun oleh seluruh karyawan Kompas Gramedia melalui MyKG.  Sahabat KG, Kompas Gramedia bertekad untuk selalu berusaha menghadirkan yang terbaik bagi setiap anggotanya. Oleh karena itu, kesehatan dan kesejahteraan Anda menjadi hal nomor satu bagi perusahaan. Partisipasi Anda dalam setiap kegiatan dan fasilitas Employee Assistance Program akan sangat dinantikan. Sebab, program ini adalah dari kita, untuk kita. Mari saling rangkul dan berjuang melewati masa sulit ini bersama-sama. 

Created By FEBE KINAWA PANGGUA

Published at:

Kompas Gramedia Employee Assistance Program: Physical Wellbeing - Digital Health Facility Survey

Hai, Keluarga Kompas Gramedia!  Salam hangat dari Employee Assistance Team Kompas Gramedia. Kemudahan atas akses dan layanan kesehatan sangat krusial dalam kondisi pandemi. Karena itu, Kompas Gramedia berinisiatif menjalin kerja sama dengan salah satu aplikasi kesehatan digital, yaitu Lifepack, dalam upaya menjamin terpenuhinya hak karyawan atas akses kesehatan. Kerja sama ini telah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan dan fasilitas kesehatan digital ini telah digunakan oleh banyak Karyawan KG.  Untuk meningkatkan kualitas layanan yang diberikan oleh Employee Assistance Team di Kompas Gramedia, khususnya dalam inovasi kesehatan digital ini, kami meminta bantuan rekan-rekan Karyawan KG untuk mengisi survei mengenai pengalaman saat menggunakan fasilitas kesehatan tambahan ini. Survei ini bersifat anonim, sehingga kami berharap teman-teman dapat memberikan pendapat sebebas mungkin dengan tetap merasa nyaman. Tautan survei ada di bit.ly/KGWellbeingSurvey atau dapat langsung diakses di sini ya!  Setiap masukan yang ada akan sangat bermanfaat bagi kami. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mengisi survei ini. Sehat selalu semuanya!

Created By FEBE KINAWA PANGGUA

Published at:

Pojok Konseling Kompas Gramedia: Kesadaran Akan Upaya Memperbesar Lingkar Kendali Diri

Sudah sekitar empat bulan sejak April 2020 terjadi perubahan pola bekerja sebagai respons menghadapi pandemi Covid-19 yang berdampak pada berbagai organisasi di penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Kekhawatiran mulai melanda sebagian besar karyawan tentang apa yang harus mereka hadapi berikutnya di masa tatanan hidup baru. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan, termasuk Kompas Gramedia, dituntut untuk memastikan bukan hanya keselamatan, melainkan juga kesejahteraan karyawannya dan kelangsungan organisasi secara bersamaan. Sebagian unit Kompas Gramedia telah menjalankan skema kombinasi antara Work From Home (WFH) maupun Work From Office (WFO) dengan menerapkan protokol kesehatan untuk meminimalisir risiko penularan Covid-19, mulai dari pengisian formulir risiko terpapar Covid-19, jadwal kerja bergantian, rapat virtual, hingga waktu kerja fleksibel bagi mereka yang diharuskan ke kantor.  Perubahan aspek lain dalam kehidupan kita juga turut terdampak, seperti cara beraktivitas sehari-hari, berelasi satu sama lain, termasuk atmosfer interaksi dengan keluarga di rumah. Hal tersebut dapat dimengerti apabila melihat angka harian pasien yang terinfeksi meningkat secara eksponensial belakangan ini. Secara otomatis, hal tersebut membuat banyak orang masih memilih untuk mengurangi aktivitas ke luar rumah demi mengurangi risiko terpapar atau menjadi pembawa (carrier) virus. Belum lagi, perasaan gusar melihat rendahnya kedisiplinan masyarakat Indonesia-- khususnya DKI Jakarta sebagai provinsi episentrum--dalam mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas dapat menimbulkan rasa cemas dan stres. Ironisnya, upaya pencegahan Covid-19 dengan berdiam diri dan beraktivitas di rumah saja pun membawa tantangan sendiri. Munculnya perasaan terisolasi serta kesepian karena interaksi sosial langsung dengan orang lain berkurang drastis adalah salah satu di antaranya. Akumulasi dari berbagai situasi adaptasi perasaan negatif tersebut setelah berbulan-bulan dapat saja memengaruhi kualitas hidup kita. Contohnya, kita bisa merasa kehilangan motivasi, kehilangan tujuan dalam bekerja, atau malah semakin gila bekerja karena ingin merasa produktif tanpa memedulikan mentalitas yang sudah terlalu lelah. Oleh karena itu, lama-kelamaan, istilah Work From Home pun berubah menjadi Working Full Hour, karena banyaknya atasan maupun bawahan yang abai dengan batasan kerja setiap individu.  Ditambah lagi, karyawan yang juga berperan sebagai orangtua harus mendampingi anak bersekolah dari rumah. Cara paling mudah untuk melihat kondisi mental yang sedang menurun (drop) adalah merasakan gejala psikosomatis; yaitu ketika pikiran memengaruhi tubuh sehingga berimbas ke fisik seperti jantung berdebar, mual, panik, muntah, gemetar (tremor), berkeringat terus-menerus, mulut kering, sakit kepala, sakit perut, napas menjadi cepat, dan nyeri otot. Mental yang tangguh (resilient) menghadapi kondisi seperti ini mutlak diperlukan karena tidak ada yang bisa menebak dengan pasti kapan pandemi ini akan berakhir.  Akan tetapi, apakah semua karyawan mampu mengatasi mental yang turun (drop) itu sendirian? Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan untuk membuat kondisi diri kita membaik dalam konteks ini adalah konseling. Konseling adalah proses ketika konselor profesional bersama individu mengeksplorasi kesulitan yang sedang dihadapi, membantu mendapatkan perspektif dari suatu permasalahan dengan lebih objektif, hingga menggali pilihan-pilihan yang dapat ditempuh sesuai kapasitasnya.  Konseling dapat membantu kita lebih fokus dan sadar pada perasaan, pikiran, serta pengalaman yang dialami; dengan tujuan agar individu: 1) dapat menemukan solusi dari dalam diri atas permasalahan yang ada; 2) berpotensi menemukan ketenangan dan kedamaian dibanding kondisi sebelumnya; 3) membangun ketangguhan; dan 4) dapat mengambil langkah relevan untuk menghadapi kondisi yang semakin tidak menentu. Konseling dapat menjadi alternatif dalam mengatasi berbagai perasaan cemas dan tidak nyaman yang mengganggu aktivitas sehari-hari, ketika upaya-upaya seperti mencurahkan hati kepada keluarga dan orang terdekat, menjalankan hobi (main game, mendengarkan musik, dan lain-lain), atau hasil kunjungan ke tenaga medis tidak lagi ampuh mengatasi fenomena gejala fisik yang dialami individu. Ketika kita mampu lebih jernih mengidentifikasi sumber kecemasan, ketakutan, atau perasaan negatif lainnya sebagai dampak dari konseling, seyogianya kita lebih mampu untuk mulai menemukan kembali perasaan akan keseimbangan dan kendali diri. Dengan menemukan kembali kendali diri, kita dapat lebih siap beradaptasi sekaligus berdamai dengan kondisi sekarang sekaligus kondisi penuh norma baru di masa depan. Sebagai bentuk kepedulian kepada karyawan, Kompas Gramedia menyediakan fasilitas konseling ini. Karyawan yang merasa memiliki gejala seperti yang telah dipaparkan sebelumnya dapat langsung mengisi Google Form berikut ini untuk mendaftarkan diri mengikuti sesi konseling dengan pihak profesional. Setelah mengirimkan informasi pada formulir, akan ada pihak ketiga yang menghubungi Anda untuk menindaklanjuti tanggal dan mekanisme pelaksanaan konseling. Semua data yang diperoleh dari Google Form akan dijaga kerahasiaannya, dalam artian hanya akan digunakan untuk kepentingan konseling saja.

Created By EDRICKO JANITRA NATHALIM

Published at:

Bebas Stres Saat Pandemi

oleh: dr. Santi (Medical Center KG) @kenapayadok.com Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan. Segala sesuatu berpotensi menyebabkan stres berkepanjangan, mulai dari kekhawatiran akan kesehatan diri dan keluarga, resesi ekonomi, masa depan yang sulit dipastikan, hingga perubahan pola kerja. Tambahan lagi, anjuran untuk #dirumahsaja, menghindari kontak fisik, dan menjaga jarak dengan orang lain membuat kita merasa terisolasi dan kesepian. Hal ini normal dan manusiawi. Ada pula dampak negatif lain yang perlu diwaspadai, yaitu: Kekacauan pola tidur Perubahan pola makan Penurunan aktivitas fisik harian Meningkatnya penggunaan alkohol, narkoba, dan rokok Meningkatnya pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga Memburuknya kondisi penyakit kronis yang telah diderita   Meski demikian, kita tak boleh putus asa menghadapi situasi pandemi ini. Banyak pula hal positif yang juga terjadi selama masa pandemi, seperti meningkatnya kualitas hubungan antar-anggota keluarga, meningkatnya kualitas belajar dan bekerja secara daring, meningkatnya kualitas hidup karena tersedianya waktu dan tenaga untuk menjalankan pola hidup sehat, juga adanya waktu luang untuk melakukan hobi. Bagaimanapun, kemampuan orang dalam menghadapi situasi sulit berbeda-beda. Karena itu, tingkat kerentanan stres setiap orang juga berbeda-beda. Kita perlu memperhatikan tanda-tanda stres yang timbul dalam diri kita sendiri maupun orang di sekitar kita. Segera lakukan intervensi sebelum terlambat. Cari bantuan sesegera mungkin manakala ada yang merasa stres. Semakin cepat mendapat penanganan, semakin cepat stres dapat ditanggulangi. Kita tahu kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kesehatan jiwa atau mental. Ingat selalu bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental sama-sama penting. Menjaga kesehatan tubuh dapat dilakukan dengan cara: 👍 Cukupi kebutuhan tidur. Pembatasan sosial membuat orang banyak berada dalam rumah. Perubahan ini sering membuat jadwal tidur menjadi kacau. Tidur yang cukup sangat berperan dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental. Cobalah untuk kembali ke jadwal tidur semula dan tetap jalankan dengan tertib. Segera hubungi tenaga kesehatan jika mengalami masalah tidur. 👍 Makan makanan yang bergizi lengkap dan seimbang serta cukupi kebutuhan minum. Bagi sebagian orang, pola makan selama pandemi menjadi lebih baik, tetapi bagi kelompok lain, pola makan bisa menjadi lebih buruk. Usahakan selalu untuk dapat makan makanan yang sehat. Makanan yang sehat dapat dibuat menjadi nikmat dan hemat. Belajarlah memilih atau membuat makanan sehat dari berbagai media yang tersedia seperti buku, majalah, Internet, dan lainnya. 👍 Aktif bergerak dan rutin olahraga. Diam dalam rumah seharusnya membuat orang memiliki lebih banyak waktu dan fleksibilitas untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga. Sayangnya, sering kali orang banyak menghabiskan waktu secara sia-sia dengan penggunaan gawai (ponsel, laptop, televisi, dan lain-lain) secara berlebihan. Cobalah melakukan refleksi berapa lama waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya, bermain game, ngobrol ngalor-ngidul, mengintip media sosial orang lain, dan seterusnya. Buat skala prioritas waktu. Atur agar waktu untuk melakukan hal lainnya tidak habis tersita oleh gawai. 👍 Hindari atau setidaknya batasi kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol, dan lain-lain. Sibukkan diri dan alihkan perhatian agar keinginan untuk melakukan berbagai kebiasaan buruk mereda atau menghilang. Lakukan aktivitas menyenangkan dan disukai, yang berupa kegiatan positif, misalnya bernyanyi, menari, berkebun, mengerjakan pekerjaan tangan lainnya, memasak, menulis, mengarang lagu, bermain musik, olahraga, belajar bahasa baru, dan sebagainya.   Untuk menjaga kesehatan mental, lakukan beberapa kiat berikut: 💪 Hindari faktor pemicu stres. Perhatikan apa saja yang memicu stres, misalnya pemberitaan tentang Covid-19, situasi perekonomian, kriminalitas, dan seterusnya. Selanjutnya, batasi pemicu stres, misalnya dengan membatasi menonton, membaca, atau mendengarkan pemberitaan dari berbagai sumber yang tidak jelas. Carilah informasi dari sumber yang kredibel. 💪 Jangan berfokus pada kekhawatiran yang berada di luar kontrol kita, misalnya penemuan vaksin dan obat untuk Covid-19, angka kriminalitas yang meningkat, situasi perekonomian yang memburuk, dan lain-lain. Ubah situasi khawatir dengan mengambil tindakan yang dapat dilakukan dalam kontrol kita. Misalnya, jika khawatir tertular Covid-19, lebih baik terapkan berbagai protokol pencegahan dengan benar dan konsisten serta menjaga daya tahan tubuh alih-alih membiarkan kekhawatiran membuat diri menjadi stres. Untuk menghindari kejahatan, jaga diri dan rumah agar aman dari incaran penjahat dengan tidak memakai perhiasan mencolok, tidak menyimpan barang berharga di rumah, mengunci pintu dengan baik, dan seterusnya. Jika resah dengan situasi ekonomi, lakukan berbagai penghematan dan berusahalah menambah pemasukan dengan berbagai cara positif misalnya mencari tambahan pekerjaan, mulai melakukan bisnis kecil, dan seterusnya. 💪 Melihat dengan sudut positif. Pandemi memang menjauhkan kita dari berbagai hal, bepergian untuk bekerja sehari-hari maupun berlibur, kegiatan sosial, hal-hal kecil yang menyenangkan, nonton di bioskop, arisan, dan lain-lain. Namun, lihatlah dari sisi yang lain bahwa pandemi membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga. Buatlah momen ini menyenangkan dengan melakukan kegiatan bersama seperti bermain, memasak, berkebun, atau sekadar mengobrol. 💪 Jangan menuntut kesempurnaan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Turunkan ekspektasi, misalnya selama sekolah daring, biarlah anak tidak meraih nilai sempurna. Tidak perlu pula membuktikan diri sebagai orangtua teladan yang superhebat. Utamakan kebahagiaan anak dan orangtua. 💪 Buat prioritas, misalnya lebih baik tetap dapat bekerja dengan baik dan membiarkan cucian terbengkalai.Sesekali gunakan jasa laundry atau membeli makanan. Tindakan itu bukanlah dosa besar. Tidak perlu harus sempurna dalam menjalani hidup. Kebahagiaan mengalahkan kesempurnaan. 💪 Usahakan menjalankan rutinitas sama seperti kondisi sebelumnya. Melakukan kegiatan rutin membantu kita menjaga kesehatan mental. Misalnya, tetaplah bekerja dengan jam kerja seperti biasa walaupun di rumah. Jika sementara waktu tidak bekerja (dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja) tetaplah lakukan sesuatu, misalnya berusaha mencari pekerjaan, mencoba pekerjaan baru yang bisa dikerjakan mandiri, seperti mencoba berkebun, beternak, membuat berbagai hal yang dapat dijual, atau mencari peluang dengan menghubungi saudara dan teman. 💪 Tetap menjaga relasi sosial dengan kerabat, teman, atau tetangga di sekitar kita. Jika kita membutuhkan bantuan, baik secara fisik, finansial, maupun mental, cobalah cari bantuan dari berbagai pihak seperti kerabat, teman, tetangga, pemerintah setempat, pemuka agama setempat, lembaga-lembaga sosial, dan seterusnya. Jika kita kebetulan berkecukupan, ulurkan tangan secara langsung bagi mereka yang kurang beruntung atau melalui berbagai lembaga social dan lembaga keagamaan. Membantu orang lain memberikan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. 💪 Segera cari bantuan jika merasa stres mengganggu hidup. Cobalah mencari dukungan moral dari keluarga, sahabat, atau rekan kerja, atau hubungi pemuka agama. Bila perlu, hubungi tenaga kesehatan terdekat. (*)

Created By AGATHA TRISTANTI

Published at:

Covid-19 #2: Hindari Stres Selama #dirumahaja

Covid-19 tidak hanya berdampak bagi kesehatan manusia, tetapi juga bagi segi kehidupan lain seperti ekonomi, sosial, budaya, bahkan keagamaan. Pola hidup masyarakat dunia berubah dalam sekejap. Beberapa negara menerapkan sistem kuncitara (lockdown), di Indonesia sendiri diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Bentuk pembatasan antara lain "mengurung" orang di dalam rumahnya sendiri sebagai bentuk swakarantina dan pembatasan jarak fisik. Kita menjadi terkurung dalam ruang sendiri-sendiri, jauh dari sentuhan fisik, serta diselimuti ketakutan baik akan penyakit maupun kehilangan mata pencaharian. Rasa tidak berdaya dan bosan bercampur dengan kebingungan. Ketidakpastian kapan masa pandemi berakhir, minimnya kontak dengan dunia luar, 'terkurung' di rumah sendiri dalam jangka wakatu lama, perubahan aktivitas kerja dan belajar, ditambah dengan berita tentang penderita Covid-19 yang terus bertambah, juga berbagai berita tentang pelemahan ekonomi dan pemutusan hubungan kerja membuat psikis tertekan. Jika stres, akibatnya daya tahan tubuh menurun sehingga membuat kita justru semakin mudah terserang penyakit termasuk Covid-19. Daripada stres, alangkah bijak jika kita melihat situasi ini dari sisi positif. Karena Covid-19, kemampuan digital masyarakat mendadak meningkat pesat. Berbagai pekerjaan dilakukan melalui media digital, begitu pula proses jual beli, penyebaran informasi, juga proses pembelajaran sekolah. Secara tidak langsung kita sudah bertransformasi menjadi masyarakat digital.  Sebagai karyawan Kompas Gramedia, inilah peluang baru yang harus kita tangkap dan pikirkan untuk membantu perusahaan tetap dapat bertahan dalam situasi penuh tantangan ini. Kita bisa berdiskusi dengan rekan atau atasan tentang ide-ide bisnis baru atau inovasi yang bisa diterapkan selama masa pandemi ini. Di luar itu, kita tetap dapat memberikan kontribusi dengan cara yang jauh lebih mudah, misalnya:  Melakukan setiap pekerjaan kita seoptimal mungkin. Jika masih harus bertugas di kantor, upayakan menghemat pemakaian listrik dan air dengan mematikan AC dan lampu pada ruang yang tidak terpakai. Gunakan selalu produk Kompas Gramedia, misalnya membaca berita yang bersumber dari Kompas.com, Tribun Network, Warta Kota, GridNetwork, Harian Kompas, Kontan, dan lain-lain; menonton KompasTV, membeli buku atau produk lain di Gramedia.com, mendengarkan Magentic Network (Radio Sonora, Motion Radio, atau SmartFM), dan sebagainya. Rekomendasikan produk perusahaan kita kepada orang lain. Selalu menjaga kesehatan diri dan keluarga.   Masih banyak cara untuk membantu perusahaan dengan apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang karyawan. Ingatlah bahwa perusahaan kita ibarat mata air yang harus dijaga agar airnya tetap mengalir sehingga kita memiliki cukup ketersediaan air. Hindari stres dengan mempergunakan waktu selama PSBB untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kesehatan fisik, psikis, dan finansial. Usahakan untuk tetap produktif, misalnya dengan menjalankan kerja di rumah secara tertib, membuat kerajinan tangan, berkebun, belajar memasak, membaca buku, memperbaiki rumah, membentuk kebiasaan makan yang baik, berolahraga, mengatur pola tidur, belajar hal baru, melakukan kegiatan rekreatif bersama keluarga di rumah maupun 'me time' untuk menghibur diri, atau bahkan memulai bisnis baru untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Mari mengelola waktu dan pikiran dengan bijaksana selama berdiam di rumah. (dr. Santi/Medical Center Kompas Gramedia, kenapayadok.com)

Created By MUHAMMAD IRHAM RAMADHAN

Published at: